Selasa, 10 April 2012

Tingkat Kemakmuran Rakyat Indonesia Untuk Masa Depan

PENDAHULUAN

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Tingkat Kemakmuran Rakyat Indonesia Untuk Masa Depan”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Soft Skill semester 4 ini.

              Kita semua tahu bahwa ekonomi menjadi hal yang sangat penting di dalam kehidupan yang real. Dilihat secara universal 10 tahun belakangan ini ekonomi dunia mengalami masa krisis. Atau boleh disebut mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Krisis dunia ini pun juga memberikan dampak secara langsung maupun tak langsung terhadap kegiatan dan perkembangan ekonomi di Indonesia. Terlebih lagi Amerika Serikat yang memegang peranan sebagai negara adidaya pun juga sedang mengalami krisis pada bidang ekonominya  sehingga ini juga memberikan impact tersendiri untuk negara negara di seluruh penjuru dunia, terutama negara – negara yang masih dalam fase negara berkembang dan tak terkecuali Indonesia. Di dalam makalah ini akan dibahas secara garis besar tentang perbandingan masa krisisasi ekonomi global dan nasional terhadap tingkat kemakmuran rakyat Indonesia.  Di dalam makalah ini juga akan dibahas apakah yang akan terjadi jika masalah perekonomian ini tidak terselesaikan. Kita semua megetahui dalam jangka waktu dekat ini isu mengenai naiknya harga BBM ( Bahan Bakar Minyak ) menjadi berita utama di negeri ini karena mengalami kenaikan nilai yang cukup signifikan yang disebabkan oleh naiknya harga minyak mentah dunia. Yang akhirnya ditunda menjadi 6 bulan kedepan. Disini kita juga akan berbicara tentang solusi – solusi apakah yang dapat dilakukan untuk menghadapi berbagai permasalahan ekonomi yang tentunya sangat berpengaruh besar terhadap kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Sehingga kita semua bisa menarik kesimpulan terhadap topik permasalahan di dalam makalah ini.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini. 

              Semoga makalah ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi semua teman – teman  dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Serta diharapakan dengan adanya makalah ini kita bisa mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

                                                                                                           

Jakarta, 9 April 2012


       ( Penyusun )
MASALAH

Tingkat kemakmuran diukur dengan seberapa banyak-kah seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada masa sekarang ini kita semua mengetahui keperluan untuk memenuhi kebutuhan hidup sangat tinggi yang selaras dengan harga – harga keperluan itu sendiri yang juga tinggi sedangkan ketersediaan lapangan kerja berbanding terbalik atau kurang mencukupi. Ini disebabkan oleh krisis ekonomi yang sudah menjangkit secara global dan dilihat kedalam jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak yang secara otomatis membutuhkan lapangan pekerjaan yang mencukupi dan memadai. Semua penjelasan tersebut memberikan pengaruh  langsung maupun tidak langsung terhadap masyarakat Indonesia itu sendiri. Yang  sudah pasti memengaruhi tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.



LANDASAN TEORI

            Pengertian kemakmuran adalah tingkat dimana seseorang bisa atau dapat memenuhi seberapa banyak kebutuhan hidupnya. Dari yang primer, sekunder, hingga tertier. Berikut adalah teori tentang pemerataan kemakmuran :
Teori Adi Permana tentang Pemerataan Kemakmuran
Kemakmuran akan bisa merata jika sejumlah sistem yang tergabung dalam sebuah megasistem ekonomi yang bisa mempengaruhi kemakmuran bisa dipaduserasikan dengan baik. Ssitem penting itu antara lain, sistem perbankan, sistem pajak, sistem investasi, sistem keuangan, sistem perdagangan dan sistem lain yang masih terkait.
Pertama, sistem perbankan yang sekarang menganut suku bunga sangat menghambat dunia investasi. Sebab, dengan hanya menyimpan uang di bank, nasabah akan bisa mendatangkan uang tanpa berpeluh keringat. Akibatnya, pemilik uang enggan menginvestasikan uangnya ke bisnis riil. Padahal, berputarnya roda ekonomi justru tergantung dengan maraknya bisnis riil di masyarakat. untuk memajukan bisnis riil, maka tidak ada jalan lain kecuali menghilangkan suku bunga bagi nasabah. Sistem perbankan harus meniadakan bunga bagi nasabah. Untuk menghidupi bank, maka nasabah dikenai uang jasa penyimpanan.
Demikian juga sistem pinjaman oleh bank harus bebas bunga atau minimal memakai azas bagi hasil yang saling menguntungkan antara bank dengan peminjam yang memakai dana pinjaman untuk modal usahanya. Selain akan menghindari ekonomi biaya tinggi dalam produksi, pinjaman tanpa bunga dan bagi hasil justru akan menyehatkan pengusaha, kecil, menengah maupun besar.
Sistem pajak juga mesti dibuat nyaman untuk pengusaha dan orang kaya. Tingginya pajak berkisar 10-12,5 persen justru membuat pengusaha dan orang kaya sulit berbagi keuntungan dengan masyarakat menengah dan kecil. Pajak yang tinggi juga membuat biaya produksi turut terbebani yang membuat harga barang dan jasa akan tinggi pula. Ini tidak bagus bagi masyarakat kecil dan menengah.
Pajak sebaiknya dipatok cukup 2,5 persen saja, sehingga pengusaha bisa membuka investasi baru, membuka pabrik baru serta membuat barang dan jasa yang bisa lebih murah dan terjangkau masyarakat kecil dan menengah. Hal ini selain mampu membuka lapangan kerja baru, dan mengurangi pengangguran, juga akan menghidupkan proses imbal-balik antara produsen dan konsumen.
Dalam sistem investasi, investasi di bidang sumber daya alam yang tidak bisa diperharui seperti tambang minyak, gas, batubara, emas, intan dan lain-lain harus dikuasai sepenuhnya oleh badan usaha milik negara, tanpa boleh ada campur tangan modal dari swasta apalagi asing. Investasi oleh negara harus digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
Sistem investasi sekarang, justru swasta dan asing diberi keleluasaan dalam bidang sumber daya alam yang tak bisa diperharui itu. Akibatnya, swasta dan asing menuai keuntungan berlebih, sementara negara hanya kebagian fee dan royalti saja. Hal itu tentu tidak bagus, karena negara akan kecil kemampuannya untuk mensejahterakan rakyatnya.
Kemudian, dalam sistem keuangan, negara harus selalu menerapkan neraca berimbang, dan menghindari defisit. Hal ini dimaksudkan agar negara menghindari utang yang justru akan membebani masyarakat. Tentunya, penggunaan keuangan harus dilakukan secermat, sehemat mungkin. Uang tidak boleh digunakan untuk belanja yang tidak perlu dan tidak urgen. Uang negara harus digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil menengah, membangun fasilitas yang langsung berkaitan dengan upaya percepatan roda ekonomi.
Dalam sistem perdagangan, negara mesti mengekspor barang yang sudah jadi, bukan dalam bentuk mentah dan setengah jadi. Di samping ekspor akan lebih bernilai, juga akan membuka potensi usaha baru bagi masyarakat untuk pengolahan bahan mentah tadi. Untuk memproteksi barang dalam negeri, negara mesti menerapkan bea masuk barang impor dengan wajar. Akan mematikan usaha masyarakat jika barang impor tetap masuk dengan bebas.


PEMBAHASAN

Sebelum berbicara tentang masyarakat sejahtera dan makmur, perlu mengenali terlebih dulu apa indikator kemakmuran dan kesejahteraan  itu. Tanpa itu kita sebetulnya sedang membicarakan makhluk yang tidak jelas wujudnya. Para pakar sering membahas puluhan bahkan ratusan angka statistik yang dikeluarkan oleh BPS, tapi tidak menyimpulkan apa-apa dalam konteks makna keadilan dan kemakmuran itu. Oleh karenanya, kami mencoba menseleksi dan muncullah 5 (lima) indikator yang paling utama dan paling representatif menggambarkan tingkat keadilan dan kemakmuran suatu bangsa.
Pertama adalah Produk Domestik Bruto perkapita, kalau diibaratkan didalam sebuah keluarga indikator ini mirip dengan pendapatan keluarga dibagi jumlah anggota keluarga. Menurut data IMF tahun 2011, PDB per kapita Indonesia sebesar $4,668 menempati peringkat 119 dari 181 negara yang disurvai. Qatar adalah negara dengan PDB perkapita tertinggi sebesar $102,891, disusul oleh Luxemburg ($84,829), Singapura ($59,939), dan Norwegia ($53,376). Sedangkan yang terendah adalah Republik Demokrasi Kongo diperingkat 181 dengan PDB per kapita $347.
Kedua adalah Tingkat Kemiskinan, berdasarkan standar garis kemiskinan nasional (Rp 230.000 per orang per bulan), masih tercatat 13.33% penduduk di bawah garis kemiskinan. Lebih mengenaskan lagi kalau digunakan standar garis kemiskinan internasional (US$2 per orang per hari), angka kemiskinan membengkak menjadi 30%). Untuk tahap sekarang ikuti saja garis kemiskinan menurut BPS, tapi angka kemiskinan itu yang perlu diprioritas untuk diturunkan sesegera dan sebanyak mungkin. Kalau sudah mencapai 0%, maka barulah diubah standar garis kemiskinan mengikuti standar internasional.
Ketiga adalah Tingkat Pengangguran Terbuka, menurut data BPS per tanggal 6 Agustus 2011, TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA secara nasional adalah 6.56%.
Ketiga indikator tersebut merepresentasikan tingkat kemakmuran masyarakat secara ekonomi sekaligus pemerataannya. Apakah kemakmuran ekonomi saja cukup?, tentu jawabnya tidak, masyarakat juga perlu berkualitas baik secara pendidikan maupun kesehatan.
Keempat adalah Tingkat pendidikan, sebelum membahas kualitas pendidikan, lebih prioritas diukur kesempatan masyarakat sekolah. Untuk itu digunakan indikator Rata-rata Lama Sekolah masyarakat yang usianya 15 tahun keatas. Berdasarkan data UNESCO, Rata-rata lama sekolah tertinggi adalah Amerika Serikat dengan 12 tahun, Indonesia adalah peringkat ke 66 dari 100 negara, yaitu 5 tahun, berarti rata-rata tidak tamat SD. Sedangkan peringkat terendah adalah negara Guinea-Bissau yaitu 0.8 tahun.
Kelima adalah Tingkat Kesehatan masyarakat yang diukur dari ANGKA HARAPAN HIDUP. Berdasarkan data CIA World Factbook (perkiraan 2011), peringkat tertinggi adalah Monako dengan angka 89.73 tahun, Indonesia diperingkat 137 dengan angka 70.76 tahun, sedangkan terendah adalah negara Swaziland di Afrika, peringkat 223 dengan angka harapan hidup yang hanya 31.88 tahun. Sebetulnya ada indikator yang lebih tepat untuk Indonesia, yaitu persentase biaya kesehatan yang ditanggung masyarakat. Semakin kecil rasio ini semakin baik.
Meski belum ada tanda-tanda pemulihan krisis ekonomi global, namun dampak krisis itu tidak akan seburuk pada tahun 2008 mengingat pondasi ekonomi Indonesia relatif lebih baik dengan perkiraan pertumbuhan tahun ini bisa mencapai antara 6,4%-6,6%.

            Demikian disimpulkan dari satu diskusi bertema “Transmisi krisis ekonomi global dan dampaknya pada ekonomi domestik” di Gedung DPR.

Diskusi yang dibuka Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Marwan Jafar itu menampilkan pembicara antara lain Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dan Kepala Bidang Kebijakan Belanja Pusat, Pusat Kebijakan APBN Lucky Alfirman.

            Menurut Erani, krisis ekonomi global kali ini tidak akan membuat jatuh perekonomian nasional seperti pada tahun 2008/2009 lalu. Menurut dia, krisis ekonomi global dua tahun lalu menimbulkan efek kejut sehingga mengganggu sendri-sendi ekonomi nasional sehingga berpengaruh terhadap indeks kepercayaan investor.

             Akan tetapi, kendati dampak krisis ekonomi global tidak terlalu parah terhadap Indonesia, sayangnya diperkirakan kondisi ini akan bertahan cukup lama. Dengan demikian hanya negara-negara yang sigap dan cerdas dalam merumuskan kebijakan yang akan cepat pulih ekonominya.

            Hanya saja prospek perekonomian pada tahun depan, menurutnya, akan lebih muram ketimbang 2011. “IMF telah mengeluarkan proyeksi ekonomi 2012 dan semua lembaga menurunkan estimasi pertumbuhan ekonomi. AS, Uni Eropa, dan Jepang pertumbuhan ekonominya diproyeksikan suram,” ujarnya.

            Dengan tidak bagusnya prospek pertumbuhan ekonomi negara-negara besar itu maka daya dukung negara tersebut terhadap perekonomian global menjadi melemah. Padahal, negara-negara maju tersebut selama ini menjadi motor perekonomian dunia terutama dalam sisi penawaran dan permintaan.

            Sementara Lucky Alfirman mengatakan kalaupun krisis global berdampak pada pertumbuhan ekonomi, dampaknya baru akan terasa pada pertengahan tahun depan. Namun demikian dia optimistis perekonomian Indonesia tidak akan terlalu terpengaruh dan akan mampu mencatat pertumbuhan hingga 6,6%. Lucky menilai kalau pondasi ekonomi Indonesia terus membaik maka krisis ekonomi di kawasan Eropa akan menjadi peluang masuknya modal ke Indonesia.“Akan tetapi ekonomi kita sering volatile sehingga kondisi itu perlu diwaspadai untuk menjaga kepercayaan pemodal asing,” ujarnya.
            Ketua Fraksi PKB Marwan Jafar mengatakan saat ini pondasi ekonomi nasional relatif baik dan mampu meningkatkan pertumbuhan hingga 6,6%. Kondisi itu, ujarnya, tidak seperti yang sering dikemukakan pihak yang sering mengritik pemerintah. 

                                           
                                 

        

           Jika target ini dilakukan dan dilaksanakan dengan sungguh – sungguh bukan tidak mungkin kemakmuran dari tahun ke tahun menjadi lebih baik dan menjadi Indonesia yang makmur dan sejahtera.



KESIMPULAN

            Sebagaimana yang telah disampaikan, ada 5 indikator untuk menilai tingkat kemakmuran. Yaitu, pendapatan per kapita, tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran terbuka, rata – rata lama sekolah, uisa harapan hidup. Jika dilihat didalam grafik presntase kemakmuran, masyrakat Indonesia berpotensi untuk mendapatkan nilai kemakmuran yang lebih dari tahun ke tahun walaupun dalam kenyataan krisi dunia. Semua ini harus diupayakan semaksimal mungkin mulai dari membangun seluruh stakeholders agar lebih kokoh dan kuat. Disini pemerintah berperan dalam mengambil berbagai kebijakan dan masyarakat, kita khusunya harus berupaya semaksimal mungkin mendorong kegiatan ekonomi nasional agar mencapai kemakmuran. Salah satunya, dengan cara seoptimal mungkin menggunakan barang – barang produksi dalam negeri.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More